Fenomena ini bisa dibilang lumrah kali ya di mana musik jadi tempat pelarian dari keterpurukan dan masalah-masalah yang mendalam, pelik. Jadi tempat mereka beristirahat, menghela nafas untuk melanjutkan langkah berikutnya, atau sekurang-kurangnya untuk melalui hari berikutnya.
"Untuk menjaga kewarasan hidup, di sini tempatnya" -- ujar seorang gitaris sambil memejamkan mata, mendongakan kepala ke langit, dan memetik gitar kesayangannya.
atau,
Bagaimana musik menjadi sarana edukasi bagi penyandang disabilitas kognitif, ampe kita yang normal pun mikir-mikir, kok bisa maen segitunya yak, hingga disabilitasnya menjadi nilai lebih yang mengungguli orang normal.
atau,
Anak yang lahir dan hidup di lingkungan keluarga broken home, akhirnya mencari tempat pelarian, dan tempat itu ke musik.
atau,
Fenomena pemuda dari desa yang merantau ke kota di LA di tahun 80an untuk mencari penghidupan yang lebih baik, bermodalkan keberanian, minim perbekalan, berangkat dari masalah, berangkat dari ngiangan pikirannya tentang lick blues yang pernah ia dengar dari radio-radio, hingga ia bermimpi, ia dapati ini tempatnya ia dapat mengekspresikan perasaannya, merelaksasikan pikirannya dari masalah yang membelenggu, dari penat hiruk dan pikuknya rutinitas keseharian. Ia mainkan dan mainkan terus progresi chord racikan sang maestro idolanya itu, ia rakit gearnya sendiri, bejek pedal wahnya dengan penuh ekspresi --yes, pasti dong!! bejekkan wah dengan iringan mulut yang menikmati, penyakit para gitaris, mungkin kenapa disebut expression pedal ya, wkwk--, dan kembali pada penyakit alamiah manusia, yaitu menggeneralisasi, "inilah hidup, musik ialah jalan hidupku".
Berlalunya hari, penat memuncak, musik peredanya. Stres mendidih, musik pendinginannya. Emosi "membuncah" --vocabs-nya Opick, hehe-- maka musik yang jadi pelerainya. Bapak perdamaian, pewarna, ia semakin yakin "musik ialah jalan hidupku".
"Musik ialah jalan hidupku" mulai beralih arah, dari yang asalnya sebagai jalan ketenangan dalam menurunkan tensi masalah harian, sekarang beralih jadi masalahnya, beralih peran. Maka di sini ia mulai kehilangan obat penawar, obatnya yang dulu kini jadi penyakit, minum apa dong? tapi itu tetap ia jalani terus dengan membuat demo rekaman, terus ia jalani sambil diiringi harapan semoga semoga dan semoga.
Tuntutan dapur rekaman, produser, target penjualan album, ide kreatif, latihan, tour band, ini terus berulang dan berulang, namun masalahnya sekarang ia kehilangan obat penawar. Malah obatnya yang jadi masalah sekarang, ia tak bisa berhenti, bahkan untuk istirahat.
"Wake up!, its time to dieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeiiiiyyyyhhhh!"
Ini sih pov, mungkin dari sini ya kenapa musisi-musisi atau para pekerja kreatif jadi jatuh ke penyalahgunaan obat, narkobeng dan kawan-kawannya.
Bad obsession, mereka jatoh, dengan sadar, pengen keluar tapi berat, terus looping dalam siklus yang tak memberikan celah untuk mereka lompat keluar, sulit dihentikan, masalahnya mereka sadar.
Seorang kawan dari Mr. Brownstone berkata di satu kesempatan, "Drugs are bad, just remember that!".